by

Sejarah Balikpapan Kini Punya Rumah, Galeri Arsip Daerah Resmi Dibuka untuk Publik

BALIKPAPAN – Sejarah Kota Balikpapan kini memiliki ruang khusus untuk dikenang, dipelajari, sekaligus diperkenalkan kepada generasi muda. Galeri Arsip Daerah yang dikelola Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (Dispustakar) Kota Balikpapan resmi dibuka untuk masyarakat, Kamis (3/9/2026).

Galeri tersebut tidak sekadar menjadi tempat menyimpan dan memamerkan dokumen sejarah. Kehadirannya diharapkan menjadi ruang edukasi yang mempertemukan masyarakat dengan berbagai arsip yang merekam perjalanan Balikpapan dari masa ke masa.

Peresmian ditandai dengan pengguntingan pita oleh Bunda Literasi Kota Balikpapan, Hj. Nurlena Rahmad Mas’ud, SE. Ia mengungkapkan, kehadiran galeri arsip merupakan salah satu keinginannya sejak lama.

Menurut Nurlena, arsip sejarah daerah tidak seharusnya hanya tersimpan sebagai dokumen. Lebih dari itu, arsip perlu diperkenalkan kepada masyarakat agar sejarah dapat dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Ini sebenarnya keinginan saya sejak lama, bagaimana arsip kota ini dapat dikenal, tahu sejarahnya, terus kita lestarikan, kita implementasikan, dan kita perbarui,” kata Nurlena.

Nurlena menilai pemahaman terhadap sejarah menjadi bagian penting dalam membangun wawasan masyarakat. Perkembangan Balikpapan hingga menjadi kota seperti sekarang, menurut dia, tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang masa lalu.

“Sejarah itu harus dipahami. Kita tidak bisa hidup kalau tidak ada sejarah. Jadi, sejarah itu harus diabadikan dengan pengaktualan pada eranya,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya memperkuat budaya literasi. Menurut Nurlena, masih banyak pengetahuan tentang Balikpapan, Indonesia, bahkan dunia yang belum diketahui masyarakat.

“Banyak ilmu yang belum kita tahu tentang Balikpapan, tentang Republik ini, bahkan tentang dunia. Ternyata makin ke sini literasi kita semakin rendah. Makanya bagaimana kita membuka literasi kita lebih luas,” katanya.

Karena itu, Nurlena mengajak sekolah, komunitas literasi, komunitas kearsipan, hingga masyarakat umum memanfaatkan Galeri Arsip Daerah sebagai ruang belajar dan berdiskusi.

Ia berharap keberadaan galeri dapat membuka perspektif baru mengenai perjalanan Balikpapan, termasuk kontribusi orang-orang yang pernah mengabdikan diri dan ikut membangun kota.

“Ada orang-orang yang mengabdi, orang-orang yang sudah berbuat untuk Balikpapan sehingga Balikpapan berdiri seperti sekarang. Itu yang harus kita ketahui dan kita tularkan kepada anak dan cucu kita,” tuturnya.

Selain mendorong masyarakat memanfaatkan galeri, Nurlena berharap pengumpulan arsip sejarah Balikpapan terus dilakukan. Sebab, menurutnya, masih terdapat sejumlah dokumen mengenai Balikpapan yang tersimpan di luar daerah, termasuk di Belanda.

Ia mendorong Pemerintah Kota Balikpapan menjalin kerja sama dengan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) untuk mendokumentasikan dan menghadirkan lebih banyak arsip sejarah Balikpapan.

“Bagaimana kita nanti bekerja sama dengan Arsip Nasional Republik Indonesia. Ini sebenarnya banyak di negara Belanda. Bagaimana nanti kita meminta kepada arsip negara untuk didokumentasikan di Kota Balikpapan,” jelasnya.

Upaya tersebut dinilai penting agar masyarakat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai sejarah dan proses terbentuknya Kota Balikpapan berdasarkan sumber-sumber arsip.

Kepala Dispustakar Kota Balikpapan, Neny Dwi Winahyu, menjelaskan koleksi yang saat ini dipamerkan di Galeri Arsip Daerah masih berupa arsip sekunder.

“Arsip yang dipamerkan di ruangan ini merupakan arsip sekunder karena arsip primernya atau aslinya itu ada di Arsip Nasional Republik Indonesia,” kata Neny.

Untuk memperkaya koleksi, Dispustakar menggandeng sejumlah sejarawan dan pemerhati sejarah di Balikpapan. Salah satunya pengelola Rumah Dahor.

“Kami juga bekerja sama dengan sejarawan yang ada di Kota Balikpapan, seperti Pak Rudi dengan Rumah Dahor, untuk saling melengkapi koleksi dan menambah wawasan di Kota Balikpapan. Tidak hanya yang ada di pemerintah, tetapi juga yang ada di rekan-rekan,” ujarnya.

Langkah kolaboratif tersebut diharapkan membuat koleksi galeri tidak hanya bersumber dari pemerintah, tetapi juga dapat merepresentasikan berbagai catatan sejarah yang dimiliki masyarakat dan pemerhati sejarah.

Neny memastikan Galeri Arsip Daerah terbuka untuk masyarakat selama jam pelayanan Dispustakar, yakni Senin hingga Jumat.

Sekolah, komunitas, maupun kelompok masyarakat dipersilakan berkunjung dan memanfaatkan galeri sebagai sarana pembelajaran sejarah.

“Silakan apabila ada sekolah atau komunitas warga yang akan berkunjung di sini. Kami persilakan, ini terbuka untuk umum,” katanya.

Dispustakar juga berencana memperbarui koleksi secara berkala. Penambahan bahan arsip ditargetkan dilakukan setiap satu hingga dua bulan agar pengunjung memiliki kesempatan menemukan informasi sejarah yang berbeda setiap kali berkunjung.

“Pastinya ada. Kami memiliki tugas untuk mengumpulkan arsip tersebut supaya ada pembaruan koleksi. Mudah-mudahan setiap bulan atau dua bulan sekali koleksinya ada yang baru,” tutur Neny.

Pihak Dispustakar juga telah berkomunikasi dengan sejumlah pemilik arsip untuk memperkaya bahan yang nantinya dapat ditampilkan.

Namun, Neny menyebut koleksi yang tersedia saat ini masih merupakan tahap awal karena galeri tersebut baru dibuka.

“Karena ini baru mulai, ibaratnya ini adalah awal. Kami memamerkan yang kami punya dulu, termasuk yang kami peroleh dari Arsip Nasional Republik Indonesia,” pungkasnya.

Dengan hadirnya Galeri Arsip Daerah, sejarah Balikpapan diharapkan tidak berhenti sebagai catatan masa lalu. Arsip menjadi pintu bagi generasi hari ini untuk memahami bagaimana kota tumbuh, siapa saja yang berkontribusi, serta bagaimana perjalanan tersebut dapat menjadi pijakan untuk menatap masa depan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *