BALIKPAPAN – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan terus memperkuat upaya mendorong UMKM naik kelas dan mampu menembus pasar internasional. Melalui penyelenggaraan Workshop Nusantara Export Academy (NEA) 2026, BI membekali pelaku usaha dengan pengetahuan, keterampilan, hingga pendampingan intensif agar siap bersaing di pasar ekspor.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan bahwa UMKM di Balikpapan, Penajam Paser Utara (PPU), dan Paser memiliki produk unggulan yang potensial menembus pasar global. Namun, masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi.
“UMKM di wilayah Balikpapan, PPU, dan Paser memiliki keunikan produk yang kuat. Namun, masih menghadapi tantangan dalam mengakses pasar ekspor, mulai dari pemahaman tahapan ekspor, akses terhadap buyer internasional, kesiapan produk memenuhi standar global, hingga strategi pemasaran internasional,” ujar Robi saat membuka Workshop NEA 2026.
Menurutnya, kondisi geopolitik global yang belum stabil juga turut memengaruhi aktivitas perdagangan internasional.
“Ketidakpastian geopolitik telah meningkatkan biaya logistik dan memperpanjang waktu pengiriman barang ke sejumlah negara tujuan. Karena itu, diperlukan penguatan kapasitas UMKM agar lebih siap menghadapi dinamika pasar global,” katanya.
Workshop yang berlangsung pada 13–15 Juli 2026 tersebut diikuti oleh 41 UMKM potensial ekspor dari sektor makanan dan minuman olahan, kriya, serta wastra khas Balikpapan, PPU, dan Paser. Para peserta sebelumnya telah melalui proses seleksi, kurasi, dan verifikasi lapangan.
Robi menegaskan, program ini tidak berhenti pada pelatihan di kelas. BI Balikpapan menyiapkan pendampingan berkelanjutan selama tiga bulan guna memastikan ilmu yang diperoleh dapat diimplementasikan secara nyata.
“Kami merancang program ini secara integratif. Tidak hanya workshop selama tiga hari, tetapi juga dilanjutkan dengan pendampingan one-on-one session, penyusunan rencana aksi ekspor, business matching dengan calon buyer internasional, hingga pendampingan transaksi ekspor,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, BI Balikpapan menggandeng berbagai mitra strategis seperti Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kalimantan Bagian Timur, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), Akademi Mudah Ekspor (AME), serta Master Bagasi.
Robi berharap sinergi tersebut mampu membuka lebih banyak peluang pasar bagi UMKM lokal.
“Melalui rangkaian workshop dan pendampingan ini, kami berharap semakin banyak UMKM di wilayah kerja KPwBI Balikpapan yang berhasil menembus pasar ekspor. Pada akhirnya, hal ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing,” pungkasnya.
Sejumlah hasil awal telah terlihat dari pelaksanaan workshop. Peserta berhasil mengidentifikasi HS Code produknya, memahami strategi peningkatan daya saing melalui perbaikan kemasan, pelabelan informasi gizi, peningkatan masa simpan produk, hingga pemanfaatan marketplace internasional untuk menjangkau pembeli global. Selain itu, UMKM yang memenuhi persyaratan juga berpeluang memperoleh fasilitasi pengiriman sampel produk dan kurasi lanjutan untuk penjajakan pasar ekspor.








Comment