BALIKPAPAN – PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) berhasil meningkatkan produksi minyak Sumur N317L di Lapangan Nilam, Wilayah Kerja (WK) Sanga Sanga, Kalimantan Timur, setelah menerapkan teknologi surface desander untuk mengatasi persoalan pasir yang terbawa dalam aliran produksi.
Penerapan teknologi tersebut mampu meningkatkan rata-rata produksi minyak dari sebelumnya 72 barel per hari (barrel oil per day/BOPD) menjadi 159 BOPD.
Produksi pasir atau sand production merupakan salah satu tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan lapangan migas yang telah memasuki fase mature. Pasir dari reservoir dapat terbawa bersama fluida produksi hingga ke permukaan dan berpotensi mengganggu fasilitas serta menghambat optimalisasi produksi.
Manager PHSS Field Teddy Indrawan mengatakan, penerapan surface desander di Sumur N317L menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk menghadapi tantangan operasional pada lapangan migas yang telah mature.
“Kami menerapkan inovasi dan teknologi sebagai langkah strategis perusahaan dalam menahan laju penurunan produksi, meningkatkan recovery rate, serta mempertahankan tingkat produksi lapangan-lapangan migas yang sudah mature di wilayah Kalimantan, khususnya WK Sanga Sanga,” kata Teddy.
Menurut Teddy, surface desander bekerja dengan memisahkan pasir dari aliran produksi melalui pemanfaatan gaya sentrifugal. Partikel pasir yang memiliki berat lebih besar dipisahkan dan dikumpulkan, sementara fluida produksi tetap melanjutkan alirannya.
Pasir yang terkumpul selanjutnya dipindahkan secara berkala untuk dikelola sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang berlaku.
Teddy menjelaskan, persoalan pasir pada Sumur N317L sebelumnya menjadi salah satu faktor yang membatasi optimalisasi produksi. Kendati sumur telah dilengkapi perangkat penyaring pasir, sebagian pasir masih dapat mencapai permukaan sehingga diperlukan metode penanganan yang lebih efektif.
“Kami mengkaji karakteristik pasir, kondisi sumur, serta pilihan teknologi penanganan pasir. Hasilnya mengarah pada penggunaan surface desander sebagai solusi untuk Sumur N317L karena memungkinkan pasir yang terbawa bersama aliran produksi dipisahkan di permukaan sebelum fluida produksi melanjutkan prosesnya,” jelasnya.
Dalam penerapannya, surface desander mampu menangani sekitar 5-7 kilogram pasir per hari. Pasir yang terkumpul kemudian dikelola sesuai prosedur yang berlaku.
Di sisi lain, pemantauan terhadap kondisi fasilitas dilakukan secara berkala. Hasil pemantauan menunjukkan tidak terdapat permasalahan integritas pada peralatan selama penerapan teknologi tersebut.
Teddy menilai keberhasilan penerapan teknologi tersebut membuka peluang untuk pengembangan langkah serupa dalam mengoptimalkan produksi sumur-sumur migas lainnya.
“Keberhasilan penerapan surface desander di Sumur N317L menjadi dasar bagi upaya optimalisasi produksi sumur-sumur migas yang sangat penting dalam mendukung ketersediaan dan ketahanan energi nasional, terutama dari Wilayah Kerja Sanga Sanga,” pungkasnya.
PHSS merupakan salah satu anak perusahaan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) di Zona 9 yang mengelola operasi dan bisnis hulu migas di WK Sanga Sanga, Kalimantan Timur, dengan menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Sebagai Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) bagi pemerintah Indonesia yang diwakili SKK Migas, PHSS bersama anak perusahaan dan afiliasi PHI lainnya terus mendorong inovasi dan penerapan teknologi untuk menghasilkan energi yang aman, efisien, andal, patuh, dan ramah lingkungan serta mendukung keberlanjutan produksi migas nasional.








Comment