KUKAR – PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) mencatatkan hasil positif dari uji produksi dua sumur pengembangan baru, yakni Sumur SEM-206 dan SEM-207, di Struktur Semberah, Wilayah Kerja (WK) Sanga-Sanga, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur.
Kedua sumur tersebut berhasil menghasilkan gas dan kondensat dengan capaian di atas target awal. Keberhasilan ini menjadi bagian dari upaya PHSS mempertahankan sekaligus meningkatkan produksi migas dari lapangan yang telah memasuki fase mature.
Sumur SEM-206 mencatat produksi awal sebesar 5,3 juta standar kaki kubik gas per hari (mmscfd) dan 706 barel kondensat per hari (bcpd). Capaian gas tersebut sekitar dua kali lebih tinggi dibandingkan target awal.
Sementara itu, Sumur SEM-207 menghasilkan 3,11 mmscfd gas dan 103 bcpd kondensat, atau sekitar empat kali lebih tinggi dari target awal. Kedua sumur juga mampu mengalirkan produksi secara natural melalui mekanisme open flow.
General Manager Zona 9 PHSS, Dadang Soewargono, mengatakan keberhasilan pengeboran kedua sumur tersebut memperkuat komitmen perusahaan dalam mengoptimalkan potensi lapangan migas mature melalui penerapan teknologi dan inovasi.
“Selaras dengan visi perusahaan, kami terus berinvestasi dalam kegiatan eksplorasi dan eksploitasi dengan melakukan pengeboran sumur-sumur baru guna menambah cadangan, meningkatkan recovery, menahan laju penurunan produksi alamiah, dan mempertahankan tingkat produksi migas lapangan-lapangan yang sudah mature di wilayah Kalimantan,” ujar Dadang dalam keterangan tertulis, Jumat (28/8/2026).
Menurutnya, pengembangan lapangan mature tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang sama pada setiap sumur. Karakteristik reservoir dan tantangan teknis yang berbeda membutuhkan perencanaan serta evaluasi risiko secara menyeluruh.
“Pengembangan lapangan migas mature membutuhkan strategi yang tepat karena setiap sumur memiliki karakteristik dan tantangan teknis yang berbeda. Karena itu, PHSS melakukan evaluasi teknis dan pengelolaan risiko secara menyeluruh dan mendalam sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan pengeboran dan uji produksi,” jelasnya.
Pada pengeboran SEM-206, PHSS menerapkan sejumlah strategi teknis, termasuk penggunaan peralatan komplesi dan kepala sumur dengan pressure rating tinggi serta teknologi Casing While Drilling (CWD).
“Pada pengeboran sumur SEM-206, kami menerapkan strategi pengeboran, antara lain melalui penggunaan peralatan komplesi dan kepala sumur dengan pressure rating tinggi serta penerapan teknologi Casing While Drilling (CWD) untuk mendukung stabilitas lubang sumur dan efektivitas operasi,” jelas Dadang.
Ia menambahkan, SEM-206 dibor lebih ke arah timur dari struktur eksisting sebagai bagian dari strategi pengembangan reservoir.
Perbedaan karakteristik reservoir turut memengaruhi durasi pekerjaan kedua sumur. Pengeboran hingga uji produksi SEM-206 diselesaikan dalam waktu 45 hari, sedangkan SEM-207 hanya membutuhkan 13 hari.
Dari sisi keselamatan kerja, kedua proyek tersebut juga mencatatkan kinerja positif. SEM-206 mencapai 75.600 jam kerja selamat, sementara SEM-207 mencatat 27.216 jam kerja selamat hingga tahap uji produksi.
Tak hanya produksi dan keselamatan, PHSS juga mencatat efisiensi dari sisi biaya. Realisasi biaya pengeboran kedua sumur tercatat lebih rendah dibandingkan anggaran yang telah ditetapkan.
“Keberhasilan pengeboran, efisiensi biaya, dan kinerja keselamatan yang unggul menunjukkan bahwa tantangan di lapangan mature dapat dijawab melalui perencanaan yang matang, inovasi, teknologi, dan eksekusi yang disiplin,” kata Dadang.
Ia menegaskan, PHSS akan terus mengoptimalkan potensi lapangan migas yang ada dengan tetap menjadikan keselamatan dan keandalan operasi sebagai prioritas.
“Kami terus mencari cara untuk mengembangkan potensi yang ada secara optimal dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan dan keandalan operasi,” pungkasnya.








Comment