BANGKALAN – Momentum Haflatul Imtihan ke-42 Pondok Pesantren Raudhatul Ulum As-Syafi’iyah di Desa Kaseman, Kelurahan Parseh, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, Minggu malam (25/1/2025), menjadi ajang refleksi dan motivasi bagi para santri.
Hadir sebagai tamu kehormatan, Wakil Bupati Bangkalan Fauzan Jakfar mengaku memiliki ikatan emosional yang kuat dengan pesantren tersebut. Di hadapan para santri, wali santri, dan tokoh masyarakat, Fauzan menyampaikan bahwa kehadirannya terasa seperti pulang ke rumah sendiri.
“Hadir di lembaga pendidikan ini seperti hadir di rumah saya sendiri. Karena dulu saya pernah mengaji langsung kepada pendiri pondok pesantren ini, almarhum Kiai Syafi’i,” ungkap Fauzan mengenang masa-masa menjadi santri.
Fauzan memberikan pesan kuat kepada para santri yang sebagian besar berasal dari keluarga petani dan masyarakat desa. Ia menegaskan bahwa latar belakang ekonomi maupun geografis bukanlah penghalang untuk meraih masa depan gemilang.
Menurutnya, pesantren justru menjadi ruang pembentukan karakter, mental, dan keikhlasan yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan modern, termasuk di dunia pemerintahan dan kepemimpinan.
“Semangat orang desa, anak petani, mereka bisa menjadi apa saja asalkan mau berikhtiar.
Fauzan Jakfar berpesan agar para santri harus bermental baja dan pantang menyerah dalam menuntut ilmu,” tegasnya disambut tepuk tangan hadirin.
Ia menekankan bahwa ketekunan, doa, dan keistiqamahan merupakan kunci utama untuk mengubah garis nasib.
Ia juga mengingatkan pentingnya tetap rendah hati, menjaga adab, serta tidak melupakan akar perjuangan dan para guru yang telah menanamkan nilai-nilai keislaman.
“Jangan jadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti. Mental santri harus kuat dan pantang menyerah menghadapi tantangan zaman. Tetap rendah hati, ingat akar dan guru-guru yang telah mendidik kita,” pungkasnya.
Momentum Haflatul Imtihan ini pun menjadi pengingat bahwa pesantren bukan hanya pusat pendidikan agama, tetapi juga kawah candradimuka lahirnya pemimpin-pemimpin masa depan dari desa.








Comment