MADINAH – 19 November 2025 – Siang di Kota Nabi itu terasa hangat, namun semangat para jamaah Umroh Wahyu Abadi Wisata justru semakin membara. Setelah mengikuti serangkaian ibadah di Masjid Nabawi, rombongan mendapat kesempatan untuk menikmati salah satu tradisi yang selalu ditunggu-tunggu: berburu oleh-oleh khas Madinah.
Muthowif Ustadz Rizky Daulay bersama Isna, tour leader yang dikenal ramah dan sigap, sejak pagi sudah menyiapkan rute belanja yang nyaman bagi jamaah. Dengan senyum yang tidak lepas dari wajahnya, Isna menjelaskan makna dari tradisi membawa buah tangan setelah beribadah di Tanah Suci.
“Selain ibadah spiritual, jamaah biasanya ingin membawa pulang kenangan dari Baitullah untuk keluarga. Istilahnya melontar riyal, karena pasti ada saja barang yang ingin dibeli sebagai bentuk cinta dan berbagi kebahagiaan,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Di kawasan pertokoan dekat Masjid Nabawi, deretan kios tampak ramai oleh jamaah dari berbagai negara. Rombongan Wahyu Abadi Wisata pun ikut larut dalam keriuhan itu. Mereka menelusuri toko demi toko untuk menemukan buah tangan terbaik.
Pilihan oleh-oleh sangat beragam. Sajadah dengan motif khas Masjid Nabawi, surban dan kain ihram berkualitas, baju gamis, minyak wangi non-alkohol, hingga pernak-pernik kecil seperti tasbih dan gantungan kunci. Tentu saja, kurma ajwa tetap menjadi primadona yang paling banyak diburu jamaah.
Bagi sebagian jamaah, kegiatan ini bukan sekadar belanja, tetapi juga sarana mempererat hubungan antaranggota rombongan. Jalan bersama, saling memberi rekomendasi, hingga menitip barang satu sama lain menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat.
Pendampingan Profesional yang Memudahkan Jamaah
Di tengah riuhnya aktivitas belanja, keberadaan Ustadz Rizky dan Isna menjadi kunci kenyamanan jamaah. Keduanya tidak hanya memberi arahan tempat terbaik untuk berbelanja, tetapi juga memastikan jamaah mendapatkan harga yang wajar dan kualitas barang yang baik.
“Alhamdulillah pelayanan dari Wahyu Abadi Wisata sangat luar biasa. Pendampingannya ramah dan membantu sekali. Kami benar-benar merasa ditemani dari awal sampai akhir,” ungkap salah satu jamaah dengan wajah puas sambil menunjukkan tas berisi oleh-oleh.
Tidak sedikit pula jamaah yang merasa terbantu dengan komunikasi yang dijembatani oleh pendamping, mengingat tidak semua pedagang fasih berbahasa Indonesia. Hal itu membuat proses belanja berjalan lancar tanpa kebingungan.
Bagi para jamaah, setiap barang yang dibeli bukan hanya buah tangan, tetapi juga simbol perjalanan spiritual yang mengubah hati. Ada yang membeli sajadah untuk digunakan di rumah, kurma untuk dibagikan di lingkungan sekitar, atau pernak-pernik kecil sebagai pengingat bahwa mereka pernah menapakkan kaki di Kota Nabi.
Tradisi membawa oleh-oleh seolah menjadi penutup manis dari rangkaian ibadah di Madinah. Dengan hati yang tenang dan kantong belanja yang penuh, jamaah kembali ke hotel membawa kebahagiaan yang akan mereka bagikan setibanya di tanah air.
Kegiatan sederhana ini menegaskan bahwa perjalanan umroh bukan semata-mata ritual ibadah, tetapi juga pengalaman sosial dan emosional yang kaya makna. Bersama pendamping yang profesional, rombongan Wahyu Abadi Wisata merasakan bagaimana Madinah menyapa dengan keramahan dan kenangan yang tak terlupakan.








Comment