Bisnis property perumahan dan sejenisnya memasuki akhir tahun 2024 belum menggembirakan kalangan pengembang atau developer di Balikpapan, ratusan unit rumah tempat tinggal siap huni disejumlah kawasan tidak maksimal dalam penjualannya, tidak ketahui secara persis penyebab lesunya bisnis perumahan bagi masyarakat Balikpapan namun yang pasti situasi bangkit dari keterpurukan pasca Covid 19 masih belum dirasakan pulih 100%. Kelesuan ekonomi saat menjelang Pilkada akhir tahun ini semakin saja dirasakan. Beberapa sektor diantaranya kebutuhan primer masih ditempatkan diurutan ketiga setelah kebutuhan pangan lebih diutamakan. Kecenderungan menonjol terlihat bisnis toko swalayan atau minimarket lebih bergairah semua titik strategis dalam kota. Hal ini bisa jadi menandakan kebutuhan pokok berupa pangan bagi masyarakat Kota Balikpapan masih lebih utama dibandingkan kebutuhan membeli sebuah rumah tempat tinggal melalui kredit KPR yang terlampau tinggi. Selain biaya hidup yang semakin meningkat, biaya pendidikan anak dan transportasi menjadi salah satu sebab kurang tersentuhnya pembelian rumah di lingkungan perumahan. Perputaran dana di bisnis Property perumahan atau real estate diyakini melambat hingga 2025 terutama di kalangan menengah kebawah. Menyiasati kondisi demikian menurut salah satu warga Balikpapan Sds menyebutkan perlu ada langka penyelamatan dibisnis ini agar tidak terlihat stag atau terhenti seperti pada sejumlah perumahan terbengkalai ditumbuhi semak belukar. Investasi dan Fasilitas yang terkucurpun bisa tertimbun kredit macet eknomi. Amka.
Bisnis Perumahan Lesu








Comment